Dampak Bila Bekerja di Lingkungan Toxic

coworking space jakarta pusat

Dewasa ini, lingkungan kerja yang tidak sehat alias toxic marak terjadi di mana – mana. Jumlah pekerja yang mengalami kelelahan mental dan fisik semakin bertambah. Jika anda, misal bekerja di coworking space Jakarta, dan tempat tersebut toxic, sudah waktunya bagi kita untuk meninjau ulang lingkungan kerja di tempat kita masing – masing.

            Ada beberapa tanda yang menjadi tolak ukur bahwa kita bekerja di lingkungan yang toxic. Jika anda sebagai karyawan coworking space Jakarta mendapati bahwa terdapat komunikasi yang buruk dari bawahan ke atasan serta jeleknya manajemen, maka perlu diwaspadai kalua kita sedang berada di lingkungan kerja yang tidak sehat. Beberapa gejala umum lainnya yang umum terdeteksi adalah perlakuan tidak adil dan tidak etis dari atasan pada bawahan, pendekatan kedisiplinan yang kasar, dan permusuhan antar anggota.

            Akibat umum dari lingkungan buruk ini dapat menurunkan motivasi kerja para karyawan coworking space Jakarta, tingginya persentase pergantian karyawan, produktifitas minim, dan kualitas kerja yang rendah. Skenarion terburuk adalah, lingkungan toxic tersebut dapat memberikan trauma fisik dan mental berkepanjangan.

            Dengan mengetahui dampak dari lingkungan kerja yang toxic, kita bisa membuat langkah pencegahan kedepan. Lalu apa saja sih dampak buruk yang sering dialami? Beikut ini adalah penjabarannya.

1.     Kurangnya Motivasi Dalam Diri Karyawan

Tempat kerja yang diatur dengan buruk, dimana lungkungan dan manajemen atasan terkesan ketat, sangat menguras motivasi karyawan coworking space Jakarta. Para pekerja merasa malas dan enggan untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan tersebut.

Motivasi yang rendah akan menguras energy lebih banyak jika memaksakan diri untuk bekerja sepanjang hari. Anehnya, hal ini bisa menyebar pada anggota lainnya layaknya penyakit covid. Sehingga, hasil dari pekerjaan yang dilakukan sering tidak sesuai ekspektasi. Tidak jarang pula, mereka yang berpengalaman dan memiliki motivasi lebihlah yang memperbaiki kesalahan tersebut. Jika hal ini terus berlanjut tanpa adanya perubahan, entah apa yang akan terjadi pada tempat kerja tersebut.

2.     Buruknya Keseimbangan Kehidupan Kerja

Kehdiupan professional di kantor coworking space Jakarta dan kehidupan pribadi dari karyawan sudah seharusnya tidak saling tumpeng tindih. Tapi kali ini, karyawan diharapkan hadir 24 jam. Walaupun di hari libur, karyawam harus tetap menjawab panggilan kantor. Padahal, memberikan ruang bagi karyawan untuk menikmati waktu pribadinya sangat penting untuk keberlangsungan perusahaan/

Akibat yang akan dirasakan oleh karyawan adalah meningkatnya rasa stress. Rumah, yang seharusnya menjadi tempat melepas penat bersama keluarga, hilang karena desakan perusahaan yang datang terus – menerus. Makan gak tenang, tidur pun gak tenang. Jika hal ini terus berlanjut, efektifitas kerja tidak akan berjalan dengan baik.

3.     Daya Tarik Pekerjaan Menghilang

Lingkungan kerja yang tidak sehat menjadi salah satu faktor besar yang menyebabkan karyawan enggan dalam bekerja karena rasa malas. Mereka tidak lagi tertarik pada pekerjaan mereka, atau bahkan tidak ingin berangkat lagi sama sekali.

Karyawan biasanya cenderung memisahkan diri ketika lingkungan kerja tidak sehat, menyakitkan dan toxic.  Hal ini akan menghambat performa dan pertumbuhan dari karyawan.

4.     Menghambat Perkembangan Profesioanalisme Karyawan

Ketidaknyamanan dalam lingkungan kerja berkemungkinan untuk mengikis keterampilan professional dalam bekerja. Karyawan tidak melaksanakan perkejaannya dengan sepenuh hati, karena mereka tahu bahwa hasil dan kontribusi mereka tidak akan dihargai.

Biasanya, hal yang menghambat para karyawan dari berkembang adalah karena pengakuan terhadap diri mereka bisa dibilang nol besar. Atasan yang tidak tau diri dengan mudahnya mengambil hak milik / pengakuan.

5.     Pandangan Negatif Terhadap Diri Sendiri

Lingkungan kerja yang toxic tidak menutup kemungkinan akan merembet ke beberapa aspek kehidupan hingga lingkup pribadi. Kita akan cenderung berbicara hal yang negatif tentang diri sendiri dan pekerjaan kita.

Hubungan dengan rekan kerja pun menjadi tersendat dikarenakan pola piker negatif yang audah melekat dalam orak. Secara tidak langsung, cara kita bertindak, berbicara, berprasangka berporos pada sumbu negative.

Secara berkala, kita akan merasa tertinggal di tempat kerja kita, karena selalu merendahkan diri sendiri. Kita merasa usaha yang kita lakukan tidak pernah bisa memenuhi expektasi atasan. Sehingga, rasa percaya diri terkuras keluar dari pribadi ini.

 

Efek Buruk Bekerja di Lingkungan Kerja Yang Toxic Bagi Kesehatan Karyawan

Pada paparan berikutnya, kita akan mencari tahu dampak buruk dari segi kesehatan, baik itu secara mental dan fisik. Berikut kami jabarkan beberapa kendala yang akan menghantui karyawan dalam lingkup kesehatan ketika bekerja di lingkungan kerja yang toxic.

6.     Insomnia dan Kesehatan Mental

Ambillah contoh kita bekerja di coworking space Jakarta, tentu saja kita akan membutuhkan banyak sekali energy fisik dan mental. Kita membutuhkan istirahat guna menjaga kewarasan diri. Namun, meninggalkan pekerjaan diluar jam kerja akan menjadi sulit jika kita bekerja di tempat yang penuh dengan pemicu stress.

Insomnia menjadi penyebab umum dari kurangnya tidur di malam hari, mengakibatkan stress dan rasa cemas berlebih. Karena kekurangan tidur, energi pun tidak terisi dengan semestinya. Jika energi tidak diatur dengan benar, besar kemungkinan akan mengakibatkan penurunan daya kerja berujung kecelakaan.

7.     Hipertensi

Lebih mudahnya, kita mengenal ini dengan sebutan darah tinggi. Ketika darah tinggi menjadi makanan sehari – hari yang tak kunjung diatasi, dapat mengakibatkan penyakit yang serius. Penyakit – penyakit seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal adalah beberapa contohnya.

Semisal kita bekerja di coworking space Jakarta Pusat, dan kebetulan kita bekerja dengan jam kerja yang sangat lama ditambah di lingkungan yang penuh dengan pemicu stress, maka akan menaikkan tekanan darah kita. Hipertensi pun pada akhirnya tidak terelakkan.

8.     Depresi

Penyebab depresi yang dialami oleh karyawan bukanlah hanya pekerjaannya saja, namun lingkungan kerja yang toxic menjadi penyumbang alasan terbesar. Poin nomor enam dan tujuh diatas dapat berujung pada satu hulu, yakni depresi.

Apablia seseorang dikelilingi oleh hal – hal negatif ( yang mana dalam hal ini lingkungan kerja ), maka akan sulit memiliki pola pikir positif. Seiring waktu, kita akan mengalami kelelahan mental, dan tanpa sadar depresi melanda kita.

9.     Burnout

Burnout adalah isitlah yang sering digunakan ketika seseorang tidak lagi memiliki semangat dari sisi mental dan fisik. Bila diartikan, burnout ialah perasaan kelelahan super. Bekerja di lingkungan yang toxic menguras energy mental dan fisik. Jika seseorang sudah burnout, maka untuk bangkit memerlukan waktu yang cukup lama

 

KESIMPULAN

            Belakangan ini, toksisitas tempat kerja mudah sekali ditemukan. Adakalanya hal toksik itu terlihat secara transparan, adakalanya pula tertutup. Hal ini menyebabkan cacat fisik dan mental kepada karyawan secara berkala jika tidak ada pencegahan serius.

            Ambilah contoh, kita bekerja di coworking space Jakarta, lalu kita menyadari ada hal toksik di tempat itu, maka untuk menghadapi hal tersebut adalah kita harus berkepala dingin. Sebisa mungkin kelilingi diri kita dengan orang – orang yang suportif, dan mengakomodasi tempat kerja.

            Walaupun pada dasarnya, satu orang saja tidak cukup sama sekali untuk merubah keseluruhan perusahaan menjadi lebih baik. Namun setidaknya, kita memastikan diri kita baik – baik saja dengan mengamati keadaan. Bila keadaan memburuk, maka pertimbangkanlah untuk mencari alternatif, entah itu berganti tempat kerja ataupun merintis bisnis baru.