Satu Viral – Rekam jejak digital ini hampir mustahil untuk dihilangkan karena rekam digital ini akan bertahan sangat lama. Rekam jejak digital ini harus diperhatikan karena bisa saja digunakan sebagai konten dan dikonsumsi oleh masyarakat banyak.
Adapun kesadaran masayarakat kita akan hal privasi di dunia digital ini juga sangatlah minim. Terlihat dari survei bahwa hanya 37% orang di Indonesia khawatir dengan rekam jejak digitalnya. Oleh karena itu, kita sebagai pengguna internet ini tidak boleh oversharing untuk mencegah penyalahgunaan jejak digital kita. Kita harus hati-hati dalam menyebarkan nama dan foto diri, nama sekolah dan kelas, tanggal lahir, dan foto ijazah karena ini semua merupakan privasi.
Sebagai pengguna digital yang aktif, kita harus peka terhadap rekam jejak digital atau data pribadi, seperti PIN atau kata sandi, tempat dan tanggal lahir, nama ibu kandung, tiga angka di belakang kartu kredit, data keuangan lain, dan nomor OTP. Kemudian, bijak dalam menggunakan wifi dan komputer di tempat umum, serta mengamankan rekam jejak di media sosial dengan melakukan pengaturan agar mencegah orang yang tidak diinginkan mengetahui kegiatan kita, seperti melakukan gembok akun, blokir orang yang membuat kita tidak nyaman, jangan pakai tagar, pilih prang-orang yang boleh melihat informasi kita, jangan terlalu detail dalam mengisi biodata, dan lain sebagainya.
Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengamankan data pribadi, yaitu dengan melakukan autentikasi dua langkah dan gunakan kata sandi yang kuat dengan mengkombinasi 10- 15 karakter, huruf, angka, kapital, dan tanda baca. Selain itu, hindari penggunaan media sosial ketika kita sedang emosi dan harus berpikir kritis dalam penggunaan media sosial. Terdapat rumus T-H-I-N-K sebelum mengunggah konten di media sosial, yaitu true, helpful, inspiring, necessary, dan kind.

Reputasi digital ini nyaris tidak mungkin untuk ditiadakan karena rekam digital ini akan bertahan benar-benar lama. Reputasi digital ini harus jadi perhatian sebab bisa saja dipakai sebagai content dan dimakan oleh warga banyak. Berdasar study dalam suatu jurnal yang keluar 2 bulan lalu, TikTok sebagai sosial media yang tercepat tumbuh sampai bisa capai 30 juta pemakai di Indonesia, dan rerata pemakai itu habiskan waktunya sekitar 850 menit/bulan. TikTok ini memakai algoritme super dari perusahaan induk mereka, yakni Bytendance (China), hingga cukup 40 menit sampai 2 jam saja untuk algoritme TikTok untuk pelajari rutinitas yang manjadi “kekurangan” kita karena pemakai TikTok memburu kebahagiaan lewat dopamin hingga membuat kita suka saat buka TikTok.
Adapun kesadaran masayarakat kita akan hal privacy di dunia digital ini sangat kurang. Kelihatan dari survey jika cuman 37% orang di Indonesia cemas dengan reputasi digitalnya. Oleh karenanya, kita sebagai pemakai internet ini jangan oversharing untuk menahan penyimpangan tapak jejak digital kita. Kita harus berhati-hati dalam menebarkan nama dan photo diri, nama sekolah dan kelas, tanggal lahir, dan photo ijazah karena ini semua sebagai privacy. Maka dari itu, kita harus peka terhadap rekam jejak digital atau data pribadi, seperti PIN atau kata sandi, tempat dan tanggal lahir, nama ibu kandung, tiga angka di belakang kartu kredit, data keuangan lain, dan nomor OTP. Kemudian, bijak dalam menggunakan wifi dan komputer di tempat umum, serta mengamankan rekam jejak di media sosial dengan melakukan pengaturan agar mencegah orang yang tidak diinginkan mengetahui kegiatan kita, seperti melakukan gembok akun, blokir orang yang membuat kita tidak nyaman, jangan pakai tagar, pilih prang-orang yang boleh melihat informasi kita, jangan terlalu detail dalam mengisi biodata, dan lain sebagainya.
Lalu, tips untuk mengamankan data pribadi, yaitu dengan melakukan autentikasi dua langkah dan gunakan kata sandi yang kuat dengan mengkombinasi 10-15 karakter, huruf, angka, kapital, dan tanda baca. Selain itu, hindari penggunaan media sosial ketika kita sedang emosi dan harus berpikir kritis dalam penggunaan media sosial. Terdapat rumus T-H-I-N-K sebelum mengunggah konten di media sosial, yaitu true, helpful, inspiring, necessary, dan kind.